21 Desember 2011

Mobilitas Sosial dan Stratifikasi Sosial


1. Mobilitas Sosial
Mobilitas sosial adalah perubahan,  pergeseran, peningkatan, ataupun penurunan status dan peran anggotanya. Misalnya seorang pensiunan pegawai rendahan beralih pekerjaan menjadi seorang pengusaha dan berhasil dengan gemilang.
Contoh lain adalah seorang pengusaha yang serba berkecukupan tetapi kemudian dia jatuh bangkrut. Proses keberhasilan atau kegagalan yang di alami oleh setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat dan dalam melakukan gerak sosial seperti inilah yang disebut mobilitas sosial.
Menurut Paul B. Horton, mobilitas sosial adalah suatu gerak perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya atau gerak pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya. Sementara menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack, mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial, yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya.
Mobilitas sosial lebih mudah terjadi pada masyarakat terbuka karena lebih memungkinkan untuk berpindah strata. Sebaliknya pada masyarakat yang sifatnya tertutup kemungkinan untuk pindah strata lebih sulit. Contohnya masyarakat feodal atau pada masyarakat yang menganut sistem kasta, pada masyarakat yang menganut sistem kasta bila seseorang lahir dari kasta yang paling rendah untuk selamanya dia tetap berada pada kasta yang rendah, dia tidak mungkin dapat pindah ke kasta yang lebih tinggi meskipun dia memiliki kemampuan atau keahlian karena yang menjadi kriteria stratifikasi adalah keturunan. Dengan demikian  tidak terjadi gerak sosial dari strata satu ke strata lain yang lebih tinggi.
Mobilitas Sosial di bedakan menjadi dua, yaitu mobilitas sosial vertikal atau naik dan mobilitas sosial horisontal atau turun. Mobilitas sosial vertikal adalah pepindahan status sosial yang dialami seseorang atau sekelompok warga masyarakat pada lapisan sosial yang berbeda yang kemudian orang atau kelompok tersebut mengalami kenaikan drajat atau status sosial, sedangkan mobilitas sosial horisontal merupakan peralihan individu atau kelompok-kelompok sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat dan tidak terjadi perubahan dalam derajat kedudukan seseorang dan status sosialnya.
Selian itu mobilitas sosial juga memiliki saluran-saluran dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari agar mobilitas sosial tersebut dapat berjalan. Saluran mobilitas sosial tersebut di antaranya.
1. Angkatan Bersenjata
Angkatan bersenjata merupakan organisasi yang dapat digunakan untuk saluran mobilitas vertikal ke atas melalui tahapan yang disebut kenaikan pangkat. Misalnya, seorang prajurit yang berjasa pada negara karena menyelamatkan negara dari pemberontakan, dia akan mendapatkan penghargaan dari negara. Dia mungkin dapat diberikan pangkat atau kedudukan yang lebih tinggi walaupun berasal dari golongan masyarakat rendah.
2. Lembaga Pendidikan
Lembaga-lembaga pendidikan pada umumnya merupakan saluran yang konkret dari mobilitas vertikal ke atas, bahkan dianggap sebagai social elevator yang bergerak dari kedudukan yang rendah ke kedudukan yang lebih tinggi. Pendidikan memberikan kesempatan pada setiap orang untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi.
3. Organisasi Masyarakat
Seperti angkatan bersenjata, organisasi masyarakat memungkinkan anggotanya yang loyal dan berdedikasi tinggi untuk menempati jabatan yang lebih tinggi, sehingga status sosialnya meningkat.
4. Perkawinan
Sebuah perkawinan dapat menaikkan status seseorang. Seorang yang menikah dengan orang yang memiliki status terpandang akan dihormati karena pengaruh pasangannya.
Gejala naik turunnya status sosial tentu akan memberikan berbagai dampak bagi masyarakat baik itu dampak positif atau dampak negatif. Dampak negatif itu biasanya berbentuk konflik. Ada berbagai macam konflik yang bisa muncul dalam masyarakat sebagai akibat terjadinya mobilitas sosial. Setiap konflik pada dasarnya ingin menguasai atau mengalahkan lawan, bagi pihak-pihak yang berkonflik bila menyadari bahwa konflik itu lebih banyak merugikan kelompoknya maka akan timbul penyesuaian kembali yang didasari oleh adanya rasa toleransi penyesuaian atau rasa saling menghargai sedangkan dampak  positif dari mobilitas sosial adalah membangkitkan minat orang untuk semakin berusaha meraih berprestasi atau berusaha untuk maju karena adanya kesempatan untuk pindah strata. Dengan adanya kesempatan ini mendorong orang untuk mau bersaing, dan bekerja keras agar dapat naik ke strata yang lebih tinggi dan untuk memperbaiki taraf hidup di masyarakat.

2. Stratifikasi Sosial
Masyarakat manusia terdiri dari beragam kelompok-kelompok orang yang ciri-ciri pembedanya bisa berupa warna kulit, tinggi badan, jenis kelamin, umur, tempat tinggal, kepercayaan agama atau politik, pendapatan atau pendidikan. Pembedaan ini sering kali dilakukan dalam pembedaan kelas karena didalam  masyarakat banyak dijumpai ketidaksamaan diberbagai bidang misalnya saja dalam dimensi ekonomi, sebagian anggota masyarakat mempunyai kekayaan yang berlimpah dan kesejahteraan hidupnya terjamin sedangkan sisanya miskin dan hidup dalam kondisi yang jauh dari sejahtera. Dalam dimensi yang  lain misalnya kekuasaan, sebagian orang mempunyai kekuasaan sedangkan yang lain dikuasai oleh yang berkuasa.
Salah satu cara untuk membedakan kelas atau mengelompokan manusia ke dalam kelas-kelas sosial tersebut adalah dengan stratifikasi sosial, dimana stratifikasi sosial melihat bagaimana anggota masyarakat dibedakan berdasarkan status yang dimilikinya. Status yang dimiliki oleh setiap anggota masyarakat ada yang didapat dengan suatu usaha dan ada yang didapat tanpa suatu usaha. Stratifikasi sosial menurut Pitirin A. Sorokin merupakan  pembedaan penduduk atau anggota masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat,  menurut Bruce J. Cohen sistem stratifikasi akan menempatkan setiap individu pada kelas sosial yang sesuai berdasarkan kualitas yang dimiliki oleh orang tersebut sedangkan menurut Max Weber stratifikasi sosial sebagai penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hierarki menurut dimensi kekuasaan, previllege, dan prestise.
Stratifikasi dapat terjadi dengan sendirinya sebagai bagian dari proses pertumbuhan masyarakat, juga dapat dibentuk untuk tercapainya tujuan bersama. Faktor yang menyebabkan stratifikasi sosial dapat tumbuh dengan sendirinya adalah kepandaian, usia, sistem kekerabatan, dan harta dalam batas-batas tertentu. Setiap masyarakat mempunyai sesuatu yang dihargai bisa berupa kepandaian, kekayaan, kekuasaan, profesi, keaslian keanggotaan masyarakat dan sebagainya. Selama manusia masih membeda-bedakan penghargaan terhadap sesuatu yang dimiliki tersebut pasti akan menimbulkan lapisan-lapisan dalam masyarakat. Semakin banyak kepemilikan seseorang terhadap sesuatu yang dihargai maka  semakin tinggi kedudukan atau lapisannya, sebaliknya bagi mereka yang hanya mempunyai sedikit atau bahkan tidak memiliki sama sekali kepemilikan atau jabatan maka mereka mempunyai kedudukan dan lapisan yang rendah. Sebagai contoh misalnya seseorang yang mempunyai tugas sebagai pejabat, ketua atau pemimpin pasti menempati lapisan yang tinggi dari pada mereka yang sebagai anggota masyarakat yang tidak mempunyai tugas atau kedudukan serta harta kekayaan.
Menurut Soerjono Soekanto dilihat dari sifatnya, pelapisan sosial dibedak menjadi stratifikasi sosial tertutup, stratifikasi sosial terbuka, dan stratifikasi sosial campuran.
a. Stratifikasi Sosial Tertutup (Closed Social Stratification)
Adalah stratifikasi dimana anggota-anggotanya dari setiap strata sulit mengadakan mobilitas vertikal atau perpindahan kelas sosial. Misalnya dalam sistem kasta, kaum Sudra tidak bisa pindah posisi naik ke lapisan kaum Brahmana.
b. Stratifikasi Sosial Terbuka (Opened Social Stratification)
Stratifikasi ini bersifat dinamis karena mobilitasnya sangat besar. Setiap anggota strata dapat bebas melakukan mobilitas sosial baik vertikal maupun horisontal tanpa adanya suatu batasan. Contohnya ketika seseorang yang miskin karena usahanya bisa menjadi kaya yang serba berkecukupan.
c. Stratifikasi Sosial Campuran
Stratifikasi sosial campuran merupakan kombinasi antara stratifikasi tertutup dan stratifikasi terbuka. Misalnya seseorang berkasta Brahmana di Bali mempunyai kedudukan yang terhormat, namun apabila orang tersebut pindah ke Jakarta dan menjadi buruh maka dia akan memperoleh kedudukan yang rendah.
Sedangkan kriteria atau ukuran yang umumnya biasanya digunakan untuk mengelompokkan para anggota masyarakat ke dalam suatu lapisan tertentu di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Kekayaan
Orang yang memiliki harta benda berlimpah akan lebih dihargai dan dihormati dari pada orang yang miskin selain itu biasanya orang yang memiliki kekayaan akan lebih muda mendapatkan sesuatu yang di inginkanya dari pada mereka yang kekurangan.
2. Kekuasaan atau Jabatan
Kekuasaan dipengaruhi oleh kedudukan atau posisi seseorang dalam masyarakat. Seorang yang memiliki kekuasaan atau jabatan yang tinggi akan menempati lapisan sosial yang tinggi sebaliknya orang yang tidak mempunyai kekuasaan berada di lapisan sosial rendah.
3. Keturunan
Orang atau anak yang lahir dari keturunan bangsawan atau orang yang berada akan lebih di horamti dalam masyarakat karena faktor orang tua mereka yang juga di hormati dan mempunyai kedudukan di masyarakat.
4. Pendidikan
Seseorang yang berpendidikan tinggi dan meraih gelar kesarjanaan atau yang memiliki keahlian profesional dipandang berkedudukan lebih tinggi,  jika dibandingkan orang berpendidikan rendah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar